Jumat, 30 September 2011

my first k(r)iss and never been kissed




Once upon a time, Aku dan Kris (Krisna, setahun diatasku dan kami baru pacaran dua minggu) nonton di bioskop sehabis pulang sekolah. Kebetulan kalau hari jum’at, sekolah kita cuma sampe jam 11. Nah, sehabis dia jum’atan baru deh kita pergi nonton. Itu pun aku sudah mulai nakal, berani bolos les bahasa inggris hanya demi pergi bareng dia.
Sesampainya di bioskop, Kris langsung beli dua tiket film horror buat kita berdua, tanpa kompromi dulu dengan aku si partner nontonnya. Aku lupa deh apa judul filemnya. Yang jelas, aku kan nggak suka horor. Tapi ya dulu sih buat aku nggak penting nonton film apa. yang penting bareng dianya. Semacam love is blind.
Pernah liat nggak di film-film cartoon mata orang yang kena hipnotis? Itu kan bola matanya kayak bentuk obat nyamuk bakar gitu ya, nah kalau aku kayaknya waktu itu bola mata aku tuh bentuknya heart shape gitu. Full of love. Ih, najiss kan yah?
Selanjutnya, masuklah kita ke dalem studio, ternyata Kris milih kursi paling atas dan paling pojok. Kebetulan juga studionya nggak penuh-penuh amat.cenderung kosong malah. Aku dipersilahkan duduk di bagian pojokannya (sial banget ga sih. Ini orang mau nyiksa aku apa?) belum juga aku duduk, dibayanganku sudah ada bayangan suster ngesot dengan tangan keluar dari kolong bangku penonton tepat dimana aku akan duduk. Ih… nyeremin deh. tapi itu semua nggak berefek terlalu panjang buat aku karena setelah nya aku merasa safety dan dunia kembali penuh heart shape. *ketibanlope
Dari awal kita masuk studio, tangan aku dan dia tak pernah terlepas. (namanya juga baru pacaran ,fyi Kris itu pacar pertama ku loh) Sampai pas entah baru seperempat film atau sudah di tengah–tengah. Aku tidak begitu ngeh dengan waktu. Sepertinya aku mengalami semacam disorientasi waktu. Tiba-tiba Kris mengarahkan pandangannya ke arahku sambil menyuapi aku popcorn, kepalanya makin dekat dengan kepalaku. matanya terus tertuju kearah mataku, seperti tatapan elang yang akan mengakhiri rantai makanan. aku mengalihakan pandanganku dari matanya, tapi dari ekor mataku aku dapat melihat matanya dia nggak lepas se-inchi pun dari mataku. Sueerr… aku ga bohong. mungkin peletku makin lama-makin canggih cara kerjanya kataku dalam hati. Hahaha. Lama kelamaan mukanya semakin mendekat dan kemudian, Omaygosssshhh.... hidungnya hampir dekat sekali dengan hidungku. Tunggu-tunggu.. aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tiba-tiba berpikir tentang sesuatu yang “sesuatu banget” #kusut
ini pasti dia mau….
Mau…
(ada sekelebat adegan reka ulang di film-film 17+ yang bermain kilat di otakku)
MENCIUMKU?
Tidak.. tidak… tidak.. TIDAK!!!
Masa sih?
Nggak mungkin ah
(aku berusaha membumihanguskan prasangka ku kepada Krisna )
Tapi tunggu…
Sepertinya benar dugaanku
Bibirnya dan bibirku kini berjarak hanya satu centimeter saja
TIDAAAAKKKKKK!!!
Begitu menyadarinya, aku langsung dengan cekatan mengambil minum yang aku simpan di sebelah kiriku dan mendekatkan sedotannya kearah bibirku dan mulai menyedotnya perlahan. Ini upaya yang aku lakukan agar dia tidak berhasil mengambil kevirginan bibirku. Kemudian aku menegakan posisi duduk dari yang tadinya menggelendot di dekat bahunya Krisna. Dia menjauhkan wajahnya buru-buru dari wajahku dan mulai kembali menonton.
Walaupun saat itu aku sedang ketiban lope dan sempat terinfeksi virus love is blind. Untung saja aku cukup sigap saat dia hampir melakukan itu padaku. Tidak.. itu tidak boleh sampai terjadi padaku. aku mau pacaran, tapi aku bukan cewek murahan.
Bagaimana bisa dia baru dua minggu jadi tamu dikehidupanku dan sekarang mau mencuri hal yang penting untukku. Love is blind but my brain isn’t blind.
Sejak hari itu dia seperti bersikap dingin kepadaku tidak seperti biasanya yang selalu menghampiri ketika jam istirahat atau sebelum pulang. Dan kalau papasan sama aku di kantin atau dimanapun. Anehnya dia nyuekin aku. Bahkan pura-pura nggak liat aku. Sedangkan aku? Aku dibuat kebingungan dengan sikapnya saat itu. aku berpikir mati-matian kenapa dia sampai bersikap seperti itu kepadaku mengingat seingat ingatanku aku tak pernah berbuat kesalahan atau berniat menyakiti dia. Keanehan ini berjalan selama satu minggu. Sedih banget rasanya saat itu. aku cenderung banyak menyalahkan diri sendiri dan sering kali aku menangis ketika memikirkan sikapnya yang berbeda. Tapi memang salahku pun, aku tak melakuakn apa-apa terhadap keadaan ini. Dan Cuma bisa diam. Mungkin karena  dulu aku termasuk cewek yang pasif. Jauh dari asertif apalagi agresif.
Tingkah laku konkrit dari aku yang pasif, jelaslah aku nggak mau nyamperin dia duluan. Meskipun aku kangen. Aku nggak mau nyampeerin dia duluan. Sampai akhirnya seminggu lebih terhitung dari sejak sikapnya berubah kepadaku, dia mutusin aku lewat sms. Pada saat itu aku sakit hati sih. Bangeeeet. Sampe nangis-nangis segala di wc sekolah. Mendadak panas dingin karena nggak kuat menerima kenyataan yang ada.
Dan kamu tahu selanjutnya apa yang terjadi?
Hari itu juga, pas waktunya pulang sekolah aku liat dia pulang bareng sambil pegangan tangan sama seniorku, salah satu anggota cheers.
What a lucky j*rk?
Diam-diam aku memberikan salam jari tengah dibelakangnya.
Dan seperti kata pepatah. Bad news travels fast. Beberapa hari kemudian aku mendengar ada selentingan kalau dia putus sama aku karena aku nggak bisa apa-apa?
WHAT !!
Tunggu…
Apa yang dia maksud nggak bisa apa-apa? Sebentar.. Mungkin aku harus lebih memperjelas kata “ngak bisa apa-apa”. Maksud dia apa bilang aku nggak bisa apa-apa? Aku benar-benar nggak faham apa maksudnya, tapi selanjutnya tiba-tiba perasaan ku mengatakan ini semua tentang hari itu. tentang di bioskop itu. Aku mungkin terlalu polos pada saat itu. Cara berpikir otakku masih konvensional. Aku sama sekali tidak menyangka. Hanya karena hal kecil itu Rangga menyudahi hubungan ini. Ah ya! Pasti gara-gara itu. Aku geram. Tensi darahku naik sampai pada titik paling tinggi. Bergejolak. Meluap-luap. Aku marah. Aku kecewa. Aku kesal.. Rasa sedihku hilang dan tergantikan dengan rasa kesal dan benci yang luar biasa. Malamnya aku putuskan untuk membuat perhitungan dengan dia.

                                                                                    ……….to be continued




Eh ga jadi deng, kasian pasti pada penasaran :P

Lanjut yaaa…


Di malam keramat itu, aku memutuskan sesuatu:
KRISNA HARUS MENYESAL #ketokpala #palakrisnaaja

 Aku putuskan untuk mengikuti ekskul cheerleaders, buat apa? Ini adalah step pertama dari serangkaian rencana muliaku. Mulia dong, aku ini ibarat dokter. Dokter itu jadi perantara pertolongan Tuhan untuk orang-orang sakit. Dan aku? Aku juga perantara Tuhan untuk menyadarkan orang-orang semacam Krisna. Lalu,lalu, mendaftarlah aku jadi salah satu anggota cheers. Kenapa jd anggota cheers? Karena di sekolahku anak cheers memiliki strata yang hampir sama dengan anak basket (ini pada jamanku loh. Lagi-lagi pada jamanku. Padahal akukan belum terlalu tua) anak cheers juga sering ikut kegiatan anak-anak basket. Syukurnya aku masuk audisi tim inti. Aku cuma mau buktiin that im hotter than your girl friend!
Kayaknya sih aku berhasil, karena banyak dari teman-teman basketnya yang mulai menitip salam padaku. Aku hampir beberapa kali PDKT dengan temannya, bahkan teman dekatnya. I know u’re not that strong enough baby. Amazingly, hanya dalam hitungan waktu yang tidak cukup lama, dia putus dari pacarnya dan minta aku balik lagi sama dia. Cenderung memohon malah. Aku merasa jadi cewek yang ada di lagu Rihanna yang take a bow. Saat Krisna begging,crying,pleading buat jadi pacarku lagi. Aku terima donk, ini adalah klimaks dari prosesi balas dendamku. Setelah aku terima, seminggu kemudian aku putuskan dengan alasan aku takut disakiti lagi.
*standingovation

#np: Rihanna – take a bow
           
            Dan sejak saat itu, Saya Tira, 23 tahun. this is my first k(ri)ss and never been kissed
           

1 komentar:

  1. coba dibaca ulang lagi, kynya ada typo ato gmn gitu sama nama karakter yg ada d cerita ini. tapi bagus kok ceritanya :)

    BalasHapus