Once upon a time, Aku dan Kris (Krisna,
setahun diatasku dan kami baru pacaran dua minggu) nonton di
bioskop sehabis pulang sekolah. Kebetulan kalau hari jum’at, sekolah kita cuma
sampe jam 11. Nah, sehabis dia jum’atan baru deh kita pergi nonton. Itu pun aku
sudah mulai nakal, berani bolos les bahasa inggris hanya demi pergi bareng dia.
Sesampainya
di bioskop, Kris langsung beli dua tiket film horror buat kita berdua, tanpa
kompromi dulu dengan aku si partner nontonnya. Aku lupa deh apa judul filemnya.
Yang jelas, aku kan nggak suka horor. Tapi ya dulu sih buat aku nggak penting
nonton film apa. yang penting bareng dianya. Semacam love is blind.
Pernah
liat nggak di film-film cartoon
mata orang yang kena hipnotis? Itu kan bola matanya kayak bentuk obat nyamuk
bakar gitu ya, nah kalau aku kayaknya waktu itu bola mata aku tuh bentuknya
heart shape gitu. Full of love.
Ih, najiss kan yah?
Selanjutnya,
masuklah kita ke dalem studio, ternyata Kris milih kursi paling atas dan paling
pojok. Kebetulan juga studionya nggak penuh-penuh amat.cenderung kosong malah.
Aku dipersilahkan duduk di bagian pojokannya (sial banget ga sih. Ini orang mau
nyiksa aku apa?) belum juga aku duduk, dibayanganku sudah ada bayangan suster
ngesot dengan tangan keluar dari kolong bangku penonton tepat dimana aku akan
duduk. Ih… nyeremin deh. tapi itu semua nggak berefek terlalu panjang buat aku
karena setelah nya aku merasa safety
dan dunia kembali penuh heart shape.
*ketibanlope
Dari
awal kita masuk studio, tangan aku dan dia tak pernah terlepas. (namanya juga baru pacaran ,fyi Kris itu pacar pertama ku loh) Sampai pas
entah baru seperempat film atau sudah di tengah–tengah. Aku tidak begitu ngeh
dengan waktu. Sepertinya aku mengalami semacam disorientasi waktu. Tiba-tiba
Kris mengarahkan pandangannya ke arahku sambil menyuapi aku popcorn, kepalanya
makin dekat dengan kepalaku. matanya terus tertuju kearah mataku, seperti tatapan elang yang akan mengakhiri rantai makanan. aku
mengalihakan pandanganku dari matanya, tapi dari ekor mataku aku dapat melihat
matanya dia nggak lepas se-inchi pun dari mataku. Sueerr… aku ga bohong. mungkin
peletku makin lama-makin canggih cara kerjanya kataku dalam hati. Hahaha. Lama
kelamaan mukanya semakin mendekat dan kemudian, Omaygosssshhh.... hidungnya hampir dekat
sekali dengan hidungku. Tunggu-tunggu.. aku menarik nafas dalam-dalam. Aku tiba-tiba
berpikir tentang sesuatu yang “sesuatu banget” #kusut
ini
pasti dia mau….
Mau…
(ada
sekelebat adegan reka ulang di film-film 17+ yang bermain kilat di otakku)
MENCIUMKU?
Tidak..
tidak… tidak.. TIDAK!!!
Masa
sih?
Nggak
mungkin ah
(aku
berusaha membumihanguskan prasangka ku kepada Krisna )
Tapi
tunggu…
Sepertinya
benar dugaanku
Bibirnya
dan bibirku kini berjarak hanya satu centimeter saja
TIDAAAAKKKKKK!!!
Begitu
menyadarinya, aku langsung dengan cekatan mengambil minum yang aku simpan di
sebelah kiriku dan mendekatkan sedotannya kearah bibirku dan mulai menyedotnya
perlahan. Ini upaya yang aku lakukan agar dia tidak berhasil mengambil
kevirginan bibirku. Kemudian aku menegakan posisi duduk dari yang tadinya menggelendot
di dekat bahunya Krisna. Dia menjauhkan wajahnya buru-buru dari wajahku dan
mulai kembali menonton.
Walaupun
saat itu aku sedang ketiban lope dan sempat terinfeksi virus love is blind. Untung saja aku cukup
sigap saat dia hampir melakukan itu padaku. Tidak.. itu tidak boleh sampai
terjadi padaku. aku mau pacaran, tapi aku bukan cewek murahan.
Bagaimana
bisa dia baru dua minggu jadi tamu dikehidupanku dan sekarang mau mencuri hal
yang penting untukku. Love is blind but my brain isn’t blind.
Sejak
hari itu dia seperti bersikap dingin kepadaku tidak seperti biasanya yang
selalu menghampiri ketika jam istirahat atau sebelum pulang. Dan kalau papasan
sama aku di kantin atau dimanapun. Anehnya dia nyuekin aku. Bahkan pura-pura
nggak liat aku. Sedangkan aku? Aku dibuat kebingungan dengan sikapnya saat itu.
aku berpikir mati-matian kenapa dia sampai bersikap seperti itu kepadaku
mengingat seingat ingatanku aku tak pernah berbuat kesalahan atau berniat
menyakiti dia. Keanehan ini berjalan selama satu minggu. Sedih banget rasanya
saat itu. aku cenderung banyak menyalahkan diri sendiri dan sering kali aku
menangis ketika memikirkan sikapnya yang berbeda. Tapi memang salahku pun, aku
tak melakuakn apa-apa terhadap keadaan ini. Dan Cuma bisa diam. Mungkin
karena dulu aku termasuk cewek yang
pasif. Jauh dari asertif apalagi agresif.
Tingkah
laku konkrit dari aku yang pasif, jelaslah aku nggak mau nyamperin dia duluan.
Meskipun aku kangen. Aku nggak mau nyampeerin dia duluan. Sampai akhirnya
seminggu lebih terhitung dari sejak sikapnya berubah kepadaku, dia mutusin aku
lewat sms. Pada saat itu aku sakit hati sih. Bangeeeet. Sampe nangis-nangis segala
di wc sekolah. Mendadak panas dingin karena nggak kuat menerima kenyataan yang
ada.
Dan
kamu tahu selanjutnya apa yang terjadi?
Hari
itu juga, pas waktunya pulang sekolah aku liat dia pulang bareng sambil
pegangan tangan sama seniorku, salah satu anggota cheers.
What
a lucky j*rk?
Diam-diam
aku memberikan salam jari tengah dibelakangnya.
Dan
seperti kata pepatah. Bad news travels fast. Beberapa hari kemudian aku
mendengar ada selentingan kalau dia putus sama aku karena aku nggak bisa
apa-apa?
WHAT
!!
Tunggu…
Apa
yang dia maksud nggak bisa apa-apa? Sebentar.. Mungkin aku harus lebih
memperjelas kata “ngak bisa apa-apa”.
Maksud dia apa bilang aku nggak bisa apa-apa? Aku benar-benar nggak faham apa
maksudnya, tapi selanjutnya tiba-tiba perasaan ku mengatakan ini semua tentang
hari itu. tentang di bioskop itu. Aku mungkin terlalu polos pada saat itu. Cara
berpikir otakku masih konvensional. Aku sama sekali tidak menyangka. Hanya
karena hal kecil itu Rangga menyudahi hubungan ini. Ah ya! Pasti gara-gara itu.
Aku geram. Tensi darahku naik sampai pada titik paling tinggi. Bergejolak.
Meluap-luap. Aku marah. Aku kecewa. Aku kesal.. Rasa sedihku hilang dan
tergantikan dengan rasa kesal dan benci yang luar biasa. Malamnya aku putuskan
untuk membuat perhitungan dengan dia.
……….to
be continued
Eh
ga jadi deng, kasian pasti pada penasaran :P
Lanjut
yaaa…
Di
malam keramat itu, aku memutuskan sesuatu:
KRISNA
HARUS MENYESAL #ketokpala #palakrisnaaja
Aku putuskan untuk mengikuti ekskul
cheerleaders, buat apa? Ini adalah step pertama dari serangkaian rencana
muliaku. Mulia dong, aku ini ibarat dokter. Dokter itu jadi perantara
pertolongan Tuhan untuk orang-orang sakit. Dan aku? Aku juga perantara Tuhan
untuk menyadarkan orang-orang semacam Krisna. Lalu,lalu, mendaftarlah aku jadi
salah satu anggota cheers. Kenapa jd anggota cheers? Karena di sekolahku anak
cheers memiliki strata yang hampir sama dengan anak basket (ini pada jamanku
loh. Lagi-lagi pada jamanku. Padahal akukan belum terlalu tua) anak cheers juga
sering ikut kegiatan anak-anak basket. Syukurnya aku masuk audisi tim inti. Aku
cuma mau buktiin that im hotter than
your girl friend!
Kayaknya
sih aku berhasil, karena banyak dari teman-teman basketnya yang mulai menitip
salam padaku. Aku hampir beberapa kali PDKT dengan temannya, bahkan teman
dekatnya. I know u’re not that strong
enough baby. Amazingly, hanya dalam hitungan waktu yang tidak cukup
lama, dia putus dari pacarnya dan minta aku balik lagi sama dia. Cenderung
memohon malah. Aku merasa jadi cewek yang ada di lagu Rihanna yang take a bow. Saat
Krisna begging,crying,pleading buat jadi pacarku lagi. Aku terima donk, ini
adalah klimaks dari prosesi balas dendamku. Setelah aku terima, seminggu
kemudian aku putuskan dengan alasan aku takut disakiti lagi.
*standingovation
#np:
Rihanna – take a bow
Dan
sejak saat itu, Saya Tira, 23 tahun. this is my first k(ri)ss and never been
kissed