Sabtu, 14 Mei 2011

MY (little) MAY


THIS!!! My may resolutions

1. rahasia
2. rahasia
3. rahasia
4. rahasia
5. rahasia
6. rahasia
7. rahasia
8
9
10…………………………………………………….1001

banyak ya?
iya donk. itu salah satu bukti konkrit kalau saya memang manusia sebenarnya.
karena memiliki potensi tamak terhadap dunia seperti yang dijelaskan
QS. AL-Baqarah 96 :
”Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dai orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

tapi, pertanyaannya how to make it real?
membuat resolusi terealisasi?
ternyata sangat mudah wahai kawan….
just make a move and start to take a little step
yaa…. take little step.
karena seperti apa yang dibilang Robert Collier :
success is THE SUM OF SMALL EFFORTS, repeated day in and day out.
me so very like this.
then, I start to think about
si kecil
Begitu banyak hal
kecil yang memberikan banyak manfaat untuk jagat raya ini.
contohnya: kalau setiap orang punya kesadaran untuk nggak membuang sampah sembarang, insya Allah bencana banjir bisa kita hindari. atau kencelangan kita di masjid. yang nggak seberapa bisa bikin bangunan masjid tambah besar.
dan yang paling deket denga kehidupan saya saya sih masalah nabung menabung. waktu kecil saya rajin nabung loh. sisa uang jajan saya pas lagi SD selalu saya masukin ke celengan even cuma seratus atau dua ratus perak. atau kalau tiba-tiba dikasih uang jajan lebih, saya masukin nominal yang lebih besar.
saya suka uring-uringan kalau saya angkat celengan saya masih belum berat. terus dengan air muka hopeless saya bilang”ih… kapan penuh nya sih:”. mama saya yang ngedenger saya lagi urang=iringan cuma bisa kasih magic wordnya yang cukup sakti membuat bibir saya yang tadinya melengkukng kebawah jadi melengkung ke atas.
and my moms magic words was : “kan
sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit ”.
and guess what?
apa yang dibilang mama saya totally do come true :) pas masa liburan saya bisa beli sepeda dari hasil tabungan saya sendiri. yippieeeee…..
oya, hal kecil juga bisa nolongin kasus bu prita itu kan? pasti masih inget kan betapa koin koin itu berarti. bakan satu juta nggak bisa dibilang satu juta kalau nggak ada seratus rupiah.

see? begitu banyak hal kecil yang yang menghasilkan hal yang besar
so, don’t ever underestimate a little thing.

bahkan kadang kita nggak sadar kalau kita ini hanya bermula dari sel tunggal yang beratnya kira-kira seperduapuluh juata ons. nah kan? sekecil apa coba? tapi, as the times goes by, si kita yang kecil itu terus berkembang dan bahkan menjadi besar seperti sekarang dan tambah besar lagi karena doyan makan dan suka jalan-jalan. ;) tapi, pernah kan terpikir kita bisa berjalan seperti biasa dan bahkan berlari itu kan hasil yang kita dapet dari langkah kecil kita semasa kita kecil.sebenarnya, pada saat lahir, bayi tidak memiliki koordinasi dada atau lengan yang baik, tetapi pada bulan pertama bayi dapat mengangkat kepalanya dari posisi tengkurap. pada usia 3 bulan, bayi dapat menyangga dadanya dengan menggunakan lengannya untuk menopang pada saat ia sedang tengkurap. pada usia 3-4 bulan, bayi dapat berguling, dan pada usia 4-5 bulan mereka dapat menopang sebagian berat badannya dengan kaki mereka. pada usai kira-kira enam bulan bayi dapat duduk tanpa dukungan dan pada usia 7 bulan mereka dapat merangkak dan berdiri tanpa dukungan, pada usaia 8 bulan bayi dapat menyangga tubuh mereka hingga ke posisi berdiri. pada usia 10-11 bulan mereka dapat berjalan menggunakan kursi atau meja sebagai alat bantu dan pada usia 12-13 bulan bayi pada umumnya berjalan tanpa bantuan. hmmm…. dari langkah kecil di dadalam box bayi atau diatas kasur, sekarang kita bisa melakukan langkah besar hingga keujung dunia

ah…. I miss my childhood...
banyak hal yang bisa kita lakuin pas kita lagi kecil. tanpa terkungkung norma-norma yang kita dapet pas udah dewasa.
anak kecil yang sok tahu tanpa ada pretensi untuk jadi yang lebih tahu.
banyak hal yang saya suka dari makhluk-makhluk kecil itu.
tapi, satu hal yang saya selalu kagumi dari mereka adalah pengamatannya.
bagaimana mereka menjelajahi dunia dengan langkah mereka yang kecil dengan ritme hidup mereka yang lambat. tapi ternyata banyak membantu banyak hal untuk semesta kita ini. banyak penemuan, pengetahuan, dan perolehan berguna yang didapat dari pengamatan anak-anak yang tidak dibatasi mungkin dan tank mungkin atau baik dan buruk. penemuan teleskop misalnya, prinsip-prinsip dasarnya ditemukan sgerombolan anak-anak yang bermain-main dengan lensa rusak yang dibuang dari toko lensa. satu hal yang tak seorangpun pernah menduganya. hingga sampai ke telinga Galileo Galilei.

mungkin karena pengamatan mereka yang luar biasa itu ya kita tak pernah bisa membohongi anak kecil. saya jadi inget, waktu praktikum intelegensi. pembimbing saya bilang “yang nggak suka anak kecil, emang bakalan mengalami sedikit hambatan menghadapi anak kecil, karena mereka tau mana benar-benar yang tulus atau yang “ada butuhnya” aja. hehehehe.
itu karena mereka bisa melihat jelas dengan hati mereka.
related to Exupery quote :It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.



ok everyone, mari kita menulai sesuatu yang kecil di tanggal yang kecil
because
Each day is a little life:
every waking and rising a little birth
 every fresh morning a little youth, every going to rest and sleep a little death.
Arthur Schopenhauer

you + me =US


Baiklaaah...


mulai sekarang kamu yang ajari saya berkuda ya?
kemudian ajari saya juga bagaimana mengalahkan musuh ketika bermain games. okey?
jangan lupa ya kamu ajari saya bermain bola sepak juga ya... :)

*kamu mendelik..

iyaa sayang,
saya juga akan ajari kamu membuat burung kertas, membuat kue strawberry, dan juga berbicara dengan ikan.
ah yaa!!!
sebagai bonus, akan kutambahkan kosa kata dalam kamusmu.


DEAL?!


and... we'll never screaming each other like we used to do

DI(A)NGIN



                           
di sini 7'' celcius
(haha. aku SOK TAHU)

DINGIN. dan dingin ini membuat aku merinding.
tak tahan dengan suhu yang ada
kulitku nyaris keriput
tak jauh dengan hatiku yang mengkerut
rona kulit memucat
darah tercekat

arggh!!
sialan kamu dingin

merasa hebat?

tunggu dulu sebentar.
biar kukenalkan pada tandinganmu.

ah, tidak dia lebih hebat.
sedikit kubocorkan
dia nyaris membuat hati dan otak ku tak berintegrasi.


betul kan pasangan jiwaku?
Lihat sayang,
si dingin ini mencoba mengalahkanmu

DAN and LION


DAN AND LION



“karena cinta kita itu seperti dandelion kemanapun perginya, maka akan selalu tumbuh di mana dandelion itu berada.”

Danisha meyandarkan sepedanya pada batang pohon, ia mengambil baling-baling yang tertempel di keranjang depan sepeda kemudian meniupnya dengan penuh kekuatan sampai pipinya membulat menyerupai bola seraya berjalan ke arah kursi kayu dihadapannya. Sekarang Danisha yang memakai rok bermotif bunga-bunga berwarna hijau sudah terduduk dengan manis sambil tak henti-hentinya meniup baling-baling yang ada di tangannya agar berputar. Ia kemudian terhenti sejenak dan memandangi baling-baling berwarna kuning yang sedang ia pegang. Cukup lama sekitar 10 menit. Danisha hanya memandangi baling-balingnya itu.
”Kamu marah sama aku ya?” Katanya tiba-tiba pada baling-baling itu.
”Ok, Aku minta maaf. Aku ini lagi nyusun skripsi, jadi aku nggak bisa pulang sore karena banyak tugas yang harus aku selesaikan sampai malam. Maaf ya” Danisha berusaha menjelaskan. ada penyesalan dalam setiap kata-katanya.
”Ayolah kamu di mana? Aku kangen kamu angin........”
Seperti seolah mendengar kata-kata Danisha, angin juga menyambut kerinduan Danisha, tanpa aba-aba terlebih dahulu. Angin tiba-tiba berhembus dengan kencang. menggoyangkan seluruh dahan dan bunga-bunga. Menjadikan mereka seolah sedang menari. Angin kali ini berhembus lebih kencang dari biasanya. Danisha tersenyum bahagia. ia menutup matanya dan menikmati hembusan angin yang membelai rambut dan tubuhnya dan ketika ia membuka matanya perlahan, ia baru tersadar setangkai dandelion yang sudah tak berputik terdampar di pangkuannya. Ia semakin senang dengan keberadaan dandelion di pangkuannya. Bunga dandelion selalu mengingatkan Danisha akan kenangan masa kecilnya yang selama ini terus bermain-main di benaknya dan menyita sebagian pikirannya. Danisha masih ingat ketika kecil dulu, dia dan teman kecilnya Lion selalu membuat permaintaan sebelum meniup putik dandelion. Permintaan Danisha adalah dapat hidup bahagia bersama Lion seperti di dongeng-dongeng yang selalu dibacakan mamanya sebelum Danisha tidur. Walau Danisha masih kecil pada saat itu Danisha tau bahwa dirinya sudah sangat menyayangi Lion. Lion yang selalu jadi pelindungnya ketika Rendi,Doni,dan Deo kerap kali mengganggunya. Berbagi makan siang ketika bekalnya direbut tiga sekawan itu, Menemani Danisha sepanjang waktu ketika tiba saat kedua orang tuanya harus bertugas diluar negeri. Untuk Danisha Lion itu malaikat pelindungnya.
”Dan... ehm....Kamu Danisha kan?’
Danisha yang hampir meniup putik dandelion tertahan karena suara yang tiba-tiba saja muncul. Danisha mengalihkan pandangannya kesumber suara. Dahinya mengkerut ketika di sampingnya ada seorang laki-laki tersenyum manis padanya.
”Darimana kamu tau aku Danisha?” Tanya Danisha keheranan.
Laki-laki itu tersenyum kecil dengan memamerkan lesung pipinya ”Siapa lagi orang yang akan menghabiskan sore dengan bermain sepeda dan meniup dandelion? Sudah pasti itu Danisha Adisubrata”Katanya berusaha membuat Danisha penasaran.
Danisha terbelalak. Lipatan didahinya semakin banyak. Siapa gerangan lelaki yang ada di sampingnya. Rasanya Danisha sudah tidak asing lagi melihat lubang kecil menawan yang menghiasi pipi claki-laki tu. Siapa dia? Danisha berpikir keras dalam batinnya.
Laki-laki itu mengambil dua tangkai dandelion yang ada di bawah kakinya, memberikan satu tangkai kepada Danisha dan mengacungkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Danisha.
”Lion?” Danisha mengembangkan senyumnya. ketika melihat kepala didepannya mengangguk , Danisha dengan gerakan refleksnya menepuk tangan Lion dengan tatapan yang masih tak percaya.
”Yaampun... kamu bener-bener Lion? kamu bener-bener berubah. kamu beda.”
”Aku berkembang Danisha, bukan berubah....” Kata  laki-laki berlesung pipi itu seraya mengacak-acak rambut Danisha.
”Pasti kamu diet habis-habisan ya? kayak artis luar negeri” Goda Danisha diakhiri tawa kecilnya.
”Aku memang banyak berubah. pasti kamu tidak menyangka Giant mu ini telah berubah jadi seorang Dekisuki ya? Sekolah di sana cape Dan, menguras banyak tenaga. Orang nya pinter-pinter. aku harus bener-bener mengejar supaya setara dengan mereka.”
Danisha tak terlalu mendengar perkataan Lion. Dia terlanjur terpana dengan pemandangan indah di depannya. Mata Danisha terus melekat pada sosok Lion. Lion benar, Giant ku telah berubah jadi Dekisuki. aku tak pernah menyangka, Lion yang berbadan sintal dan lucu telah berubah menjadi sosok yang gagah, menawan, dan smart dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
”Eh, ngomong-ngomong kamu ngapain di sini Dan?” Mata Lion berputar-putar, menatap berkeliling.
Danisha hanya tersenyum, berusaha menutupi kegundahannya. Sesungguhnya ia tak mungkin mengatakan ia sedang melakukan ritual sorenya disini. Ritual yang sudah ia lakukan selama 15 tahun sejak Lion pindah ke Jakarta. Sejak Lion memberikan kenang-kenangan sebuah windchimes dan baling-baling.
“Kamu ke mana aja sih cuma di Jakarta aja sombong amat?” Tanya Danisha mengalihkan pertanyaan Lion.
Ada guratan salah di mata Lion, “Maafin aku Dan, sebenarnya aku cuma menikmati hidup satu bulan di Jakarta. selebihnya aku tinggal di German. Papaku dipindah tugaskan disana. maaf aku nggak sempet kasih kabar. Karena itu benar-benar mendadak. Kamu tahu kan waktu kita kecil alat komunikasi yang umum adalah surat. Handphone hanya dipakai orang-orang penting. dan aku tak sempat mengirimkan surat kepadamu. ”
Danisha terpekur diam. Penjelasan Lion membuat serpihan-serpihan memorinya tentang 15 tahun yang lalu berhamburan. Terakhir kali dia bertemu malaikat kecilnya adalah di taman ini, di tempat ia bermain sepeda bersama Lion, menerbangkan layang-layang, meniup baling–baling di bawah pohon, dan tak lupa ritual meniup putik bunga dandelion bersama di sore hari. Saat Danisha dan Lion kecil, semua hal itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuk mereka yang tinggal di kota kecil Lembang yang jauh dari peradaban pusat kota.
Danisha memandang Lion dalam-dalam, senyum manis khasnya terukir di wajah mungilnya, ”Sudahlah... aku ngerti kok. yang penting kamu sekarang di sini dan nggak akan kemana-mana lagi karena kamu akan selalu jadi malaikat pelindung aku” Ucap Danisha riang.
Sekarang giliran Lion yang terpekur diam, tangannya meraih jari-jemari Danisha dan mulai menggenggamnya, ada rasa salah yang menyelubungi perasaannya ”Aku minta maaf Dan, hari ini aku kesini bukan untuk kembali. tapi, untuk pamit pergi.”
Danisha menyipitkan matanya ”Maksudnya kamu harus kembali ke German? It’s ok Lion dengan teknologi, ribuan mill tak ada artinya buat kita. Ini bukan jaman dulu. Kita bisa bertatap muka setiap hari lewat webcam”
Lion menghela nafas sesaat untuk kembali menghembuskannya. Lidahnya terasa beku untuk mengatakan yang sesunggguhnya. Ilmu-ilmu yang dia dapatkan di German rasanya tak banyak membantu dia untuk menjelaskan hal ini kepada Danisha. ”aku tidak akan kembali ke German. Mama dan papa juga akan terus tinggal di Indonesia. tapi, aku akan pergi karena aku tak bisa jadi malaikat pelindungmu lagi. Besok malam, mama dan papa akan mengenalkanku pada anak temannya. Aku nggak tau Dan, ini semua lebih mendadak dari kepergianku ke German. Sebenarnya orang tua ku tak pernah memaksakan hal ini kepadaku. tapi, sebagai anak tunggal kamu tahu kan cuma aku harapan mereka satu-satunya. siapa lagi yang bisa membahagiakan mereka selain aku. maafkaan aku ya Dan?” Tangan Lion semakin erat menggenggam tangan Danisha.
            Danisha mengangguk lemah. dadanya terasa sesak. kata-kata Lion barusan mampu memencet tombol-tombol paling lemah dari perasaannya. Ditahannya bulir-bulir airmata yang memaksa mengalir. Danisha menengadahkan kepalanya ke angkasa agar air matanya tertahan di sana. Dilihatnya lembayung senja telah mengabur. Matahari sudah mulai terbenam. Sama dengan perasaannya yang harus ia benam dalam-dalam sejak mendengar pernyataan Lion barusan. Diliriknya sosok Lion di samping yang sedang memutar-mutar tangkai dandelion. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Danisha meraih dandelion yang yang ada di tangan Lion dan mengaitkan telunjuknya ke teluntuk lion. ”Ayo kita make a wish....”
            Lion cukup terkejut dengan ajakan Danisha, namun itu hanya terjadi beberapa detik, selanjutnya Lion langsung memegang tangkai dandelion yang ada di genggaman Danisha dan mengaitkan jari kelingkingnya. sekarang jari mereka bertautan satu sama lain.
            Danisha dan Lion memejamkan matanya secara bersamaan. membuat satu permintaan khusus. Sama seperti apa yang selalu mereka lakukan 15 tahun yang lalu ketika melihat matahari sudah mulai terbenam. Baru kali ini Danisha ragu dengan permintaan nya. Sebenarnya dari kecil Danisha selalu meminta permintaan yang sama, yaitu bisa kembali ke taman ini dan meniup dandelion lagi bersama Lion. Begitu pula dengan Lion, Sesungguhnya dia mempunyai permintaan yang sama dengan Danisha dan satu hal lagi dari permintaan mereka yang sama. Danisha dan Lion selalu ingin bersama selamanya. Namun diantara mereka tidak ada yang tahu bahwa permintaan yang mereka panjatkan adalah permintaan yang serupa. Lion membuka mata terlebih dahulu. Dilihatnya wajah Danisha dengan mata yang masih terpejam, Begitu cantik dan polos. Rasa bersalah menyeruak di dalam batinya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan gadis mungil ini sendirian, meninggalkan gadis kecilnya yang selama ini selalu ia lindungi.
            Danisha membuka matanya dan terlihat sedikit kikuk karena menyadari Lion terlebih dahulu membuka mata dan memperhatikannya sedari tadi. Danisha angkat bicara, menghindari situasi ini menenggelamkannya ke asa yang telah tiada.
            ”ok, kita mulai ya... satu... dua.... tiga....fuhhhh”
Keduanya meniup putik dandelion bersamaan, pandangan mereka tertuju ke mana putik-putik itu berterbangan sampai hilang bersama perjalanan sang angin.
                                                                        *****
Danisha menutup jendela kamarnya ketika terpaan angin membuat tirai-tirainya menari tak beritme dan membuat gaun putih berbahan satin yang ia kenakan terangkat. Ia juga melepas windchimes yang sedang memainkan melodi angin yang indah. ini tak biasa dilakuakan Danisha sebelumnya. Sebelum hari ini Danisha selalu menyambut angin yang datang dengan senyuman, membuka jendela selebar mungkin dan membiarkan angin menyentuh apapun yang ada di termasuk menyentuh hatinya. Pikiran Danisha direcoki kenangan kecilnya lagi ketika Lion memberikan windchimes yang baru ia lepas, saat itu Lion berkata ”windchimes akan jadi pertanda kalau aku ada. karena aku akan selalu datang bersama hembusan angin.” Itu kenapa Danisha sangat mengharap kedatangan angin. tapi, sejak kemarin sore di taman, angin bukanlah apa-apa lagi untuknya. Angin bukan lagi pertanda datangnya Lion. karena kini, Lion telah pergi dan takan kembali. Air matanya kini tak terbendung lagi.
”Sayang, kamu sudah siap?”kata mama tiba-tiba dari balik pintu.
”Sudah ma.... ” Danisaha refleks menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya.
Mama mendekati Danisha. memandang wajah anaknya yang tak berhiaskan apapun, ”Kamu kok belum ngapa-ngapain sih sayang?”
”Nih, aku kan udah ganti baju ma...” Danisha menunjuk gaun putih berbahan satin dan berhiaskan ruffles nya.
”Nih, kamu belum dandan” Mama menjawil pipinya.
Danisha mengerutkan keningnya ”Tapi mah aku....”
”Sudah sini...” Mama menghentikan aksi protes Danisha dengan memegangi wajahnya.
Danisha pasrah. Dengan sigap mama memolesi wajahnya dengan bedak dan perona pipi, membubuhkan eyes shadow berwarna natural di kelopak matanya yang lebar, menjepit bulu matanya yang memang sudah lentik dan mengoleskan maskara agar terlihat lebih tebal tak lupa mama mengoleskan lipstik di bibir mungilnya.  
Mama tersenyum puas melihat anak satu-satunya ini berpenampilan lain dari biasanya Danisha memang tidak seperti anak perempuan lain seumurnya. wajahnya yang putih berseri memang tidak pernah sama sekali bersentuhan dengan penghias wajah apapun. malam ini mama benar-benar menjadi ibu peri bagi Danisha.
”Nah, selesai... sekarang kamu cepet turun ke bawah sepertinya teman mama dan keluarganya sudah datang.”
Danisha memandang dirinya dicermin. Kalaupun dia risih dengan penampilannya malam ini. Memang dia harus mengakui mama dengan sukses merubahnya bak seorang barbie. Setelah puas memandangi sosok cantiknya dicermin, Danisha menuruni anak tangga dan menuju ke ruang tamu. Danisha terkaget bukan main karena diantara orang-orang yang ditemuinya di ruang tamu ada sesosok laki-laki yang hendak akan dilupakannya. Yah itu Lion. Lion tersenyum di tempatnya.
”Lion?” Seru Danisha
Seisi ruang tamu mendadak ramai dengan tawa Om Arya, Tante Sinta, Mama, Papa, dan Lion. Danisha tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.
Lion menghampiri Danisha dan membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin berbentuk angka 21, “Selamat ulang tahun Danisha....”
Danisha masih setengah mengaga. Dia benar-benar lupa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Semua hal tentang Lion telah membuatnya tak sadarkan diri akan hal yang lainnya termasuk hari ulang tahunnya.
“Tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga... sekarang juga...” Semua orang di ruang tamu serempak bernyanyi untuk Danisha.
“Mah... Pah.. ada apa in?” Kata Danisha tak sabar setelah meniup lilinnya.
“Kita semua pengen kasih surprise untuk kamu sayang, sekaligus tante pengen nemuin lion dengan peri kecil yang selalu dia lukis setiap  harinya. ini sebagai penebusan dosa tante buat kamu karena telah mengambil Lion dari kamu.” Tante Sinta yang pertama kali angkat bicara. Mama, Papa dan Om Arya hanya ikut mengangguk. Muka Lion bersemu kemerahan mendengar perkataan mamanya
”Yaudah, kamu nggak perlu kebingungan lagi. sekarang kamu ajak Lion gih ke taman belakang. kalian pasti pengen ngobrol banyak kan?” Mama menambahkan.
Lion berjalan dibelakang Danisha yang masih kebingungan. Danisha kemudian terduduk di teras belakang rumah. Lion mengikutinya. Tak ada kata-kata apapun sari keduanya. Kata0kata yang sesungguhnya dapat menghangatkan malam dingin disana.
”Kamu kok diem aja?” Akhirnya Lion yang membuka pembicaraan.
”Abis kamu bohongin aku” Jawab Danisha kesal.
”Bohongin apa?”
”Itu yang kemarin sore, kamu bohongkan mau dikenalin sama anak temen orang tua kamu?”
”Tapi aku nggak tau apa-apa tentang ini Danisha, kita sama-sama dibohongi mereka. Aku baru tahu pas sampai di depan rumah kamu.”
”Bohong” Danisha masih memajukan bibirnya tak percaya.
Lion tersenyum melihat tingkah laku Danisha yang masih sama seperti dulu. memajukan bibirnya beberapa centi jika sedang kesal atau sebal.
”Mau bibirnya tambah panjang sepanjang hidung pinokio juga kamu tetap cantik Danisha...” Lion menjawil bibir Danisha.
”Sorry. aku anti gombalisme” Mata Danisha mendelik ke arah Lion dan memunggunginya karena Danisha tau mukanya kini bersemu kemerahan.
Lion menyodorkan dia puluh satu tangkai dandelion ke tangan Danisha,”Nih.... nggak marah lagi kan?”
Danisha tersipu. Dia tesenyum malu
Lion meraih tangan Danisha dan menggenggamnya dengan erat dan menatapnya dalam-dalam ”Saya sayang kamu Danisha sampai kapanpun.”
Danisha memperlihatkan barisan gigi putihnya dia terseyum ”Saya juga sayang kamu Lion”
Lion merentangkan tangannya. Danisha menenggelamkan tubuh kecilnya di dekapan Lion. Lion mengelus lembut rambut hitam legamnya Danisha. Dibelakang telinga Danisha Lion berbisik ”Cinta kita itu kayak bunga dandelion ini. kemanapun putik-putiknya terbang terbawa angin dan dimanapun dia akan berlabuh. dia akan tetap tumbuh berbunga lagi di tempat ia berlabuh”

LOST (where are you)

Kita berpegangan.
Kelima jariku dan jarimu saling bertautan
Tp entah rasanya cahaya matahari pagi lebih hangat dari panas tubuh kamu yg terasa lewat tangan yg menggenggam


jarak tubuh kamu dan aku.
Ya jarak tubuh kita tidak lebih dari setengah langkah kaki
Tapi entahlah
Yang kurasa hatimu jauh ribuan mill dari kota


Oh, aku kehilangan "jiwanya"
Dimana kamu?
Aku mencari


*i wished for "him" , my only love to take me in his arms, in arms so big i was dwarfed in his embrace. I wished to be sorounded by his love, whispering hushes of assurance in my ears and running his fingers through my hair like he used to do

Ps: i miss u

saya kelimpungan
merepitisi gerakan umum orang panik

ok singkatlah.
saya panik.

sungguh ini lebih buruk dari Long-Distance-Relationship yang sedang marak.


"i cant reach you anymore..."

(lebih kencang)
"I CANT REACH YOU ANYMORE..."

bukan. bukan karena signal telepon yang timbultenggelam dan koneksi internet yang kacau secara masal


bukan. Bukan karena tibatiba jalanan memuai karena panas bumi yang semakin tinggi


bukan juga karena spesies burung tak ada lagi di muka bumi ini dan kita tak bisa lagi saling menitip salam


kacau. Kacau
ini lebih buruk dari saya di amerika dan kamu di indonesia

gawat gawat ini gawat.
Saya panik. Panik panik
.. karena benang tak kasat mata itu sudah mulai menghilang dijari kita

rain and rainbow (limapuluhduaminggulebihyanglalu)


"Hujan.... SIAL!"

"AduCh HuJjAn la9yyy..... bETe dEcH"

"yAahhh... hUjaN... jaDi n96ak Bs n9apa" in deCh"

ok!! tiga aja cukup donk ah bikin saya gerah. kenapa sih merekamereka yang diatas terusterusan mengeluhkan hujan? "bETe dEch jaDi n96ak Bs n9apa" in". Heloooowww? manusia kan diberi kemampuan untuk adaptasi. pake aja jas hujan atau payung. case closed kan? kenapa musti ribut sih tiap-tiap ada hujan?

yang saya tau, HUJAN ITU BERKAH. kata guru agama saya waktu SMA, dia bilang kalau kita berdo'a pada saat hujan, maka malaikatmalaikat akan turun ikut mendo'akan do'a-do'a kita.

itu kenapa awal mulanya saya suka make a wish ketika hujan turun. bahkan saya pernah berpikir "mungkin malaikat yang turun dan ikut mendukung do'a saya sebanyak bulir-bulir air hujan yang jatuh dari langit" maka, semakin besar hujannya saya semakin senang dan keyakinan do'a saya akan terkabul semakin menguat.

saya nggak cuma suka sama hujan karena saya suka make a wish. tapi saya suka semua hal tentang hujan, bau basah hujan yang menyegarkan, suara air hujan yang jatuh di atap rumah saya yang selalu terdengar seperti nyanyian alam., dan juga saya suka si pita hujan---RAINBOW. yah, pelangi maksud saya. entah mengapa, saya lebih suka menyebut rainbow ketimbang pelangi (ah, mungkin saya sok english aja ya )
sesuatu yang saya selalu tunggu-tunggu setelah hujan. bagus bangeet sumpah. kalo kamu benar-benar melihatnya rainbow itu lebih dari hanya sekedar biasan cahaya yang berwarna-warni.

eh, ngomong-ngomong tentang hujan dan pelangi.
pernah denger nggak ada quote bunyinya:
"if it rains look for the rainbow"
atau
"it take a lot if rains to make a rainbow"

yea both of 'em menyinggung tentang si hujan. pertamanya saya nggak ngeh. tapi, saya jadi mikir (mungkin) si orang yang bikin quotes ini terinspirasi sama persepsi beberapa orang yang mengnalogikan hujan dengan kesusahan atau kesulitan. dan rainbow itu sebagai simbol dari kebahagiaan dan keceriaan. kalau begitu ceritanya, mungkin maksud dari quotes tersebut juga nggak jauh dari peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang renang ketepian. bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. saya masih inget dulu, waktu SD saya punya perjanjian dengan orang tua saya. setiap nilai saya bagus saya boleh minta mainan apapun yang saya mau. saya belajar abisabisan ketika itu supaya saya bisa dapet mainan yang saya pengen. trus mundur beberapa waktu dulu sebelum itu, saya juga inget betapa waktu kecil saya sering jatuh-menangis-berjalan-jatuh-menangis-berjalan lagi sampai bisa berlari seperti sekarang. dan satu hal yang yang masih saya pikirkan... akankah kita ada di bumi tanpa rasa sakit yang Nabi Adam terima ketika dia diusir dari surga untuk turun ke bumi?

masih dengan golden rule yang sama:
berakit-rakit ke hulu, berenang renang ketepian. bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian = NO PAIN NO GAIN

okey, kembali jalan yang benar.
mungkin sebagian orang melihat hujan sebagai sesuatu yang buruk. tapi, jika kita melihat hujan seperti apa adanya hujan itu adalah suatu berkah yang Tuhan berikan untuk alam raya ini. apa kita nggak pernah berpikir, siapa yang akan menyirami sawah-sawah atau pohon-pohon yang tinggi menjulang tanpa hujan? siapa yang mau memandikan jalan yang kotor karena debu dan polusi? kalau hujan mendatangkan sesuatu yang buruk, itu bukan karena hujan. tapi itu karena ulah manusia itu sendiri. banjir, longsor nggak akan pernah ada kalu kita nggak pernah mendzolimi bumi. iya kan?
sama dengan sesuatu yang buruk yang terjadi dihidup kita. oh ralat, bukan buruk. tapi sesuatu yang kita anggap buruk. karena sebenarnya tidak ada sesuatu yang baik atau buruk yang terjadi pada seseorang, baik buruk itu hanya terletak pada bagaimana cara pandang orang itu dalam menilai sesuatu itu. saya dulu pernah memiliki pandangan negatif terhadap apa yang terjadi pada diri saya. ini mungkin sedikit dangdut dan menggelikan tapi sungguh ini juga salah satu periode kritis yang harus saya lewati. jadi,
once upon a time saya ditinggal sama seseorang yang pada saat itu cukup berarti dihidup saya. saya nggak tau alesan pastinya apa tapi yang saya tau dia nggak suka sifat saya yang "kayak anak kecil" yang nggak tau caranya berperilaku sama orang dewasa kalo kata Plato bilang, anak adalah miniatur orang dewasa yang artinya semua kemampuan nya sama dengan orang dewasa namun hanya berbeda secara kuantitatif. dan jika anak berbuat menyimpang dari standar orang dewasa maka anak dianggap bodoh. mungkin itu yang ada di pikurannya saat itu. buat saya yang sebelumnya nggak pernah ditinggal rasanya beraaaaaaaaaaaaat banget. it is ruin my life inside and out.karena dulu coping saya belum bagus. masa berkabung saya pun menjadi waktu yang panjang. believe it or not saya juga sampai ke psikiater karena saya ngerasa nggak sehat secara mental saat itu. (silahkan ketawa sepuaspuasnya). dan mungkin memilih jurusan psikologi buat berobat jalan secara gratis (ternyata ke psikiater buat konseling mahal juga ya? haha) . tapi ternyata tanpa saya sadari, sesuatu itu yang tadinya saya pikir buruk buat saya ternyata memiliki banyak manfaat di baliknya. saya jadi tau, kalau ditinggalin itu nggak enak (dulu saya sering ninggalin orang tanpa jejak), saya yang cuek jadi perhatian banget, saya jadi nggak gengsian, dan yang paling penting saya jadi bisa masakkkk (naon sih teu nyambung) yang jelas............. yes, i got the best of me

sahabat saya yang cantik bilang, saya berubah banget. bukan cynthia yang dulu.
tapi, saya lebih seneng kalau dia lebih spesifik bilang saya berkembang banget... karena berkembang akan selalu ke arah yang lebih baik. dan berubah bisa jadi ke arah negatif atau positif.

look? hal-hal yang buruk adalah hadiah untuk membantu kita tumbuh dan berkembang : masalah-masalah yang harus dipecahkan, belajar mengetahui situasisituasi yang harus dihindari,kebiasaankebiasaan yang harus diubah, kondisikondisi yang harus diterima, pelajaranpelajaran yang harus dipelajari, halhal yang harus ditransformasikan---semua kesempatan untuk mendapatkan kebijaksanaan,kebahagiaan, dan kebenaran
walaupun kadang kurang bijak menyikapinya pad saat mengalaminya.

dan justru kita harus berhati-hati dengan hal yang kita pikir baik padahal membawa keburukan untuk kita. contohnya: memanjakan seorang anak yang malah membuat ia dependent pada akhirnya. atau orang kaya yang sombong dengan hartanya.

hal ini semua yang membuat saya percaya setelah hujan pasti ada pelangi

percayalah, ALLAH menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, siang dan malam, yin dan yang.
diciptakan berpasang pasangan bukan duntuk berdiri sendiri tapi untuk saling melenkapi. dalam hidup ini keseimbangan lah yang perlu dijaga. you need to laugh but sometimes you need to cry. begitu pula dengan masalah pasti sepaket dengan jalan keluarnya, bahkan menurut Hetherington kita semua dibekali risk and resiliance atau kemampuan untuk mengatasi resiko. tanpa masalah, hidup akan seperti aliran sungai tanpa bebatuan yang akan membuatnya tidak menarik..
dan percaya atau tidak, kita akan lebih menghargai kebahagiaan setelah mengalami penderitaan.
itu juga mungkin kenapa rasa makanan jd lbh enak setelah kita berpuasa

PS : this note especially dedicated for Riza Asthiani and Sinta Ghea Nurlaila dan juga untuk temanteman yang sedang bersedih




salam warnawarni,

.....dari peri pelangi