DAN AND LION
“karena cinta kita itu seperti dandelion kemanapun perginya, maka akan selalu tumbuh di mana dandelion itu berada.”
Danisha meyandarkan sepedanya pada batang pohon, ia mengambil baling-baling yang tertempel di keranjang depan sepeda kemudian meniupnya dengan penuh kekuatan sampai pipinya membulat menyerupai bola seraya berjalan ke arah kursi kayu dihadapannya. Sekarang Danisha yang memakai rok bermotif bunga-bunga berwarna hijau sudah terduduk dengan manis sambil tak henti-hentinya meniup baling-baling yang ada di tangannya agar berputar. Ia kemudian terhenti sejenak dan memandangi baling-baling berwarna kuning yang sedang ia pegang. Cukup lama sekitar 10 menit. Danisha hanya memandangi baling-balingnya itu.
”Kamu marah sama aku ya?” Katanya tiba-tiba pada baling-baling itu.
”Ok, Aku minta maaf. Aku ini lagi nyusun skripsi, jadi aku nggak bisa pulang sore karena banyak tugas yang harus aku selesaikan sampai malam. Maaf ya” Danisha berusaha menjelaskan. ada penyesalan dalam setiap kata-katanya.
”Ayolah kamu di mana? Aku kangen kamu angin........”
Seperti seolah mendengar kata-kata Danisha, angin juga menyambut kerinduan Danisha, tanpa aba-aba terlebih dahulu. Angin tiba-tiba berhembus dengan kencang. menggoyangkan seluruh dahan dan bunga-bunga. Menjadikan mereka seolah sedang menari. Angin kali ini berhembus lebih kencang dari biasanya. Danisha tersenyum bahagia. ia menutup matanya dan menikmati hembusan angin yang membelai rambut dan tubuhnya dan ketika ia membuka matanya perlahan, ia baru tersadar setangkai dandelion yang sudah tak berputik terdampar di pangkuannya. Ia semakin senang dengan keberadaan dandelion di pangkuannya. Bunga dandelion selalu mengingatkan Danisha akan kenangan masa kecilnya yang selama ini terus bermain-main di benaknya dan menyita sebagian pikirannya. Danisha masih ingat ketika kecil dulu, dia dan teman kecilnya Lion selalu membuat permaintaan sebelum meniup putik dandelion. Permintaan Danisha adalah dapat hidup bahagia bersama Lion seperti di dongeng-dongeng yang selalu dibacakan mamanya sebelum Danisha tidur. Walau Danisha masih kecil pada saat itu Danisha tau bahwa dirinya sudah sangat menyayangi Lion. Lion yang selalu jadi pelindungnya ketika Rendi,Doni,dan Deo kerap kali mengganggunya. Berbagi makan siang ketika bekalnya direbut tiga sekawan itu, Menemani Danisha sepanjang waktu ketika tiba saat kedua orang tuanya harus bertugas diluar negeri. Untuk Danisha Lion itu malaikat pelindungnya.
”Dan... ehm....Kamu Danisha kan?’
Danisha yang hampir meniup putik dandelion tertahan karena suara yang tiba-tiba saja muncul. Danisha mengalihkan pandangannya kesumber suara. Dahinya mengkerut ketika di sampingnya ada seorang laki-laki tersenyum manis padanya.
”Darimana kamu tau aku Danisha?” Tanya Danisha keheranan.
Laki-laki itu tersenyum kecil dengan memamerkan lesung pipinya ”Siapa lagi orang yang akan menghabiskan sore dengan bermain sepeda dan meniup dandelion? Sudah pasti itu Danisha Adisubrata”Katanya berusaha membuat Danisha penasaran.
Danisha terbelalak. Lipatan didahinya semakin banyak. Siapa gerangan lelaki yang ada di sampingnya. Rasanya Danisha sudah tidak asing lagi melihat lubang kecil menawan yang menghiasi pipi claki-laki tu. Siapa dia? Danisha berpikir keras dalam batinnya.
Laki-laki itu mengambil dua tangkai dandelion yang ada di bawah kakinya, memberikan satu tangkai kepada Danisha dan mengacungkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Danisha.
”Lion?” Danisha mengembangkan senyumnya. ketika melihat kepala didepannya mengangguk , Danisha dengan gerakan refleksnya menepuk tangan Lion dengan tatapan yang masih tak percaya.
”Yaampun... kamu bener-bener Lion? kamu bener-bener berubah. kamu beda.”
”Aku berkembang Danisha, bukan berubah....” Kata laki-laki berlesung pipi itu seraya mengacak-acak rambut Danisha.
”Pasti kamu diet habis-habisan ya? kayak artis luar negeri” Goda Danisha diakhiri tawa kecilnya.
”Aku memang banyak berubah. pasti kamu tidak menyangka Giant mu ini telah berubah jadi seorang Dekisuki ya? Sekolah di sana cape Dan, menguras banyak tenaga. Orang nya pinter-pinter. aku harus bener-bener mengejar supaya setara dengan mereka.”
Danisha tak terlalu mendengar perkataan Lion. Dia terlanjur terpana dengan pemandangan indah di depannya. Mata Danisha terus melekat pada sosok Lion. Lion benar, Giant ku telah berubah jadi Dekisuki. aku tak pernah menyangka, Lion yang berbadan sintal dan lucu telah berubah menjadi sosok yang gagah, menawan, dan smart dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
”Eh, ngomong-ngomong kamu ngapain di sini Dan?” Mata Lion berputar-putar, menatap berkeliling.
Danisha hanya tersenyum, berusaha menutupi kegundahannya. Sesungguhnya ia tak mungkin mengatakan ia sedang melakukan ritual sorenya disini. Ritual yang sudah ia lakukan selama 15 tahun sejak Lion pindah ke Jakarta. Sejak Lion memberikan kenang-kenangan sebuah windchimes dan baling-baling.
“Kamu ke mana aja sih cuma di Jakarta aja sombong amat?” Tanya Danisha mengalihkan pertanyaan Lion.
Ada guratan salah di mata Lion, “Maafin aku Dan, sebenarnya aku cuma menikmati hidup satu bulan di Jakarta. selebihnya aku tinggal di German. Papaku dipindah tugaskan disana. maaf aku nggak sempet kasih kabar. Karena itu benar-benar mendadak. Kamu tahu kan waktu kita kecil alat komunikasi yang umum adalah surat. Handphone hanya dipakai orang-orang penting. dan aku tak sempat mengirimkan surat kepadamu. ”
Danisha terpekur diam. Penjelasan Lion membuat serpihan-serpihan memorinya tentang 15 tahun yang lalu berhamburan. Terakhir kali dia bertemu malaikat kecilnya adalah di taman ini, di tempat ia bermain sepeda bersama Lion, menerbangkan layang-layang, meniup baling–baling di bawah pohon, dan tak lupa ritual meniup putik bunga dandelion bersama di sore hari. Saat Danisha dan Lion kecil, semua hal itu adalah hal yang sangat menyenangkan untuk mereka yang tinggal di kota kecil Lembang yang jauh dari peradaban pusat kota.
Danisha memandang Lion dalam-dalam, senyum manis khasnya terukir di wajah mungilnya, ”Sudahlah... aku ngerti kok. yang penting kamu sekarang di sini dan nggak akan kemana-mana lagi karena kamu akan selalu jadi malaikat pelindung aku” Ucap Danisha riang.
Sekarang giliran Lion yang terpekur diam, tangannya meraih jari-jemari Danisha dan mulai menggenggamnya, ada rasa salah yang menyelubungi perasaannya ”Aku minta maaf Dan, hari ini aku kesini bukan untuk kembali. tapi, untuk pamit pergi.”
Danisha menyipitkan matanya ”Maksudnya kamu harus kembali ke German? It’s ok Lion dengan teknologi, ribuan mill tak ada artinya buat kita. Ini bukan jaman dulu. Kita bisa bertatap muka setiap hari lewat webcam”
Lion menghela nafas sesaat untuk kembali menghembuskannya. Lidahnya terasa beku untuk mengatakan yang sesunggguhnya. Ilmu-ilmu yang dia dapatkan di German rasanya tak banyak membantu dia untuk menjelaskan hal ini kepada Danisha. ”aku tidak akan kembali ke German. Mama dan papa juga akan terus tinggal di Indonesia. tapi, aku akan pergi karena aku tak bisa jadi malaikat pelindungmu lagi. Besok malam, mama dan papa akan mengenalkanku pada anak temannya. Aku nggak tau Dan, ini semua lebih mendadak dari kepergianku ke German. Sebenarnya orang tua ku tak pernah memaksakan hal ini kepadaku. tapi, sebagai anak tunggal kamu tahu kan cuma aku harapan mereka satu-satunya. siapa lagi yang bisa membahagiakan mereka selain aku. maafkaan aku ya Dan?” Tangan Lion semakin erat menggenggam tangan Danisha.
Danisha mengangguk lemah. dadanya terasa sesak. kata-kata Lion barusan mampu memencet tombol-tombol paling lemah dari perasaannya. Ditahannya bulir-bulir airmata yang memaksa mengalir. Danisha menengadahkan kepalanya ke angkasa agar air matanya tertahan di sana. Dilihatnya lembayung senja telah mengabur. Matahari sudah mulai terbenam. Sama dengan perasaannya yang harus ia benam dalam-dalam sejak mendengar pernyataan Lion barusan. Diliriknya sosok Lion di samping yang sedang memutar-mutar tangkai dandelion. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Danisha meraih dandelion yang yang ada di tangan Lion dan mengaitkan telunjuknya ke teluntuk lion. ”Ayo kita make a wish....”
Lion cukup terkejut dengan ajakan Danisha, namun itu hanya terjadi beberapa detik, selanjutnya Lion langsung memegang tangkai dandelion yang ada di genggaman Danisha dan mengaitkan jari kelingkingnya. sekarang jari mereka bertautan satu sama lain.
Danisha dan Lion memejamkan matanya secara bersamaan. membuat satu permintaan khusus. Sama seperti apa yang selalu mereka lakukan 15 tahun yang lalu ketika melihat matahari sudah mulai terbenam. Baru kali ini Danisha ragu dengan permintaan nya. Sebenarnya dari kecil Danisha selalu meminta permintaan yang sama, yaitu bisa kembali ke taman ini dan meniup dandelion lagi bersama Lion. Begitu pula dengan Lion, Sesungguhnya dia mempunyai permintaan yang sama dengan Danisha dan satu hal lagi dari permintaan mereka yang sama. Danisha dan Lion selalu ingin bersama selamanya. Namun diantara mereka tidak ada yang tahu bahwa permintaan yang mereka panjatkan adalah permintaan yang serupa. Lion membuka mata terlebih dahulu. Dilihatnya wajah Danisha dengan mata yang masih terpejam, Begitu cantik dan polos. Rasa bersalah menyeruak di dalam batinya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan gadis mungil ini sendirian, meninggalkan gadis kecilnya yang selama ini selalu ia lindungi.
Danisha membuka matanya dan terlihat sedikit kikuk karena menyadari Lion terlebih dahulu membuka mata dan memperhatikannya sedari tadi. Danisha angkat bicara, menghindari situasi ini menenggelamkannya ke asa yang telah tiada.
”ok, kita mulai ya... satu... dua.... tiga....fuhhhh”
Keduanya meniup putik dandelion bersamaan, pandangan mereka tertuju ke mana putik-putik itu berterbangan sampai hilang bersama perjalanan sang angin.
*****
Danisha menutup jendela kamarnya ketika terpaan angin membuat tirai-tirainya menari tak beritme dan membuat gaun putih berbahan satin yang ia kenakan terangkat. Ia juga melepas windchimes yang sedang memainkan melodi angin yang indah. ini tak biasa dilakuakan Danisha sebelumnya. Sebelum hari ini Danisha selalu menyambut angin yang datang dengan senyuman, membuka jendela selebar mungkin dan membiarkan angin menyentuh apapun yang ada di termasuk menyentuh hatinya. Pikiran Danisha direcoki kenangan kecilnya lagi ketika Lion memberikan windchimes yang baru ia lepas, saat itu Lion berkata ”windchimes akan jadi pertanda kalau aku ada. karena aku akan selalu datang bersama hembusan angin.” Itu kenapa Danisha sangat mengharap kedatangan angin. tapi, sejak kemarin sore di taman, angin bukanlah apa-apa lagi untuknya. Angin bukan lagi pertanda datangnya Lion. karena kini, Lion telah pergi dan takan kembali. Air matanya kini tak terbendung lagi.
”Sayang, kamu sudah siap?”kata mama tiba-tiba dari balik pintu.
”Sudah ma.... ” Danisaha refleks menghapus bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya.
Mama mendekati Danisha. memandang wajah anaknya yang tak berhiaskan apapun, ”Kamu kok belum ngapa-ngapain sih sayang?”
”Nih, aku kan udah ganti baju ma...” Danisha menunjuk gaun putih berbahan satin dan berhiaskan ruffles nya.
”Nih, kamu belum dandan” Mama menjawil pipinya.
Danisha mengerutkan keningnya ”Tapi mah aku....”
”Sudah sini...” Mama menghentikan aksi protes Danisha dengan memegangi wajahnya.
Danisha pasrah. Dengan sigap mama memolesi wajahnya dengan bedak dan perona pipi, membubuhkan eyes shadow berwarna natural di kelopak matanya yang lebar, menjepit bulu matanya yang memang sudah lentik dan mengoleskan maskara agar terlihat lebih tebal tak lupa mama mengoleskan lipstik di bibir mungilnya.
Mama tersenyum puas melihat anak satu-satunya ini berpenampilan lain dari biasanya Danisha memang tidak seperti anak perempuan lain seumurnya. wajahnya yang putih berseri memang tidak pernah sama sekali bersentuhan dengan penghias wajah apapun. malam ini mama benar-benar menjadi ibu peri bagi Danisha.
”Nah, selesai... sekarang kamu cepet turun ke bawah sepertinya teman mama dan keluarganya sudah datang.”
Danisha memandang dirinya dicermin. Kalaupun dia risih dengan penampilannya malam ini. Memang dia harus mengakui mama dengan sukses merubahnya bak seorang barbie. Setelah puas memandangi sosok cantiknya dicermin, Danisha menuruni anak tangga dan menuju ke ruang tamu. Danisha terkaget bukan main karena diantara orang-orang yang ditemuinya di ruang tamu ada sesosok laki-laki yang hendak akan dilupakannya. Yah itu Lion. Lion tersenyum di tempatnya.
”Lion?” Seru Danisha
Seisi ruang tamu mendadak ramai dengan tawa Om Arya, Tante Sinta, Mama, Papa, dan Lion. Danisha tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.
Lion menghampiri Danisha dan membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin berbentuk angka 21, “Selamat ulang tahun Danisha....”
Danisha masih setengah mengaga. Dia benar-benar lupa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Semua hal tentang Lion telah membuatnya tak sadarkan diri akan hal yang lainnya termasuk hari ulang tahunnya.
“Tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga... sekarang juga...” Semua orang di ruang tamu serempak bernyanyi untuk Danisha.
“Mah... Pah.. ada apa in?” Kata Danisha tak sabar setelah meniup lilinnya.
“Kita semua pengen kasih surprise untuk kamu sayang, sekaligus tante pengen nemuin lion dengan peri kecil yang selalu dia lukis setiap harinya. ini sebagai penebusan dosa tante buat kamu karena telah mengambil Lion dari kamu.” Tante Sinta yang pertama kali angkat bicara. Mama, Papa dan Om Arya hanya ikut mengangguk. Muka Lion bersemu kemerahan mendengar perkataan mamanya
”Yaudah, kamu nggak perlu kebingungan lagi. sekarang kamu ajak Lion gih ke taman belakang. kalian pasti pengen ngobrol banyak kan?” Mama menambahkan.
Lion berjalan dibelakang Danisha yang masih kebingungan. Danisha kemudian terduduk di teras belakang rumah. Lion mengikutinya. Tak ada kata-kata apapun sari keduanya. Kata0kata yang sesungguhnya dapat menghangatkan malam dingin disana.
”Kamu kok diem aja?” Akhirnya Lion yang membuka pembicaraan.
”Abis kamu bohongin aku” Jawab Danisha kesal.
”Bohongin apa?”
”Itu yang kemarin sore, kamu bohongkan mau dikenalin sama anak temen orang tua kamu?”
”Tapi aku nggak tau apa-apa tentang ini Danisha, kita sama-sama dibohongi mereka. Aku baru tahu pas sampai di depan rumah kamu.”
”Bohong” Danisha masih memajukan bibirnya tak percaya.
Lion tersenyum melihat tingkah laku Danisha yang masih sama seperti dulu. memajukan bibirnya beberapa centi jika sedang kesal atau sebal.
”Mau bibirnya tambah panjang sepanjang hidung pinokio juga kamu tetap cantik Danisha...” Lion menjawil bibir Danisha.
”Sorry. aku anti gombalisme” Mata Danisha mendelik ke arah Lion dan memunggunginya karena Danisha tau mukanya kini bersemu kemerahan.
Lion menyodorkan dia puluh satu tangkai dandelion ke tangan Danisha,”Nih.... nggak marah lagi kan?”
Danisha tersipu. Dia tesenyum malu
Lion meraih tangan Danisha dan menggenggamnya dengan erat dan menatapnya dalam-dalam ”Saya sayang kamu Danisha sampai kapanpun.”
Danisha memperlihatkan barisan gigi putihnya dia terseyum ”Saya juga sayang kamu Lion”
Lion merentangkan tangannya. Danisha menenggelamkan tubuh kecilnya di dekapan Lion. Lion mengelus lembut rambut hitam legamnya Danisha. Dibelakang telinga Danisha Lion berbisik ”Cinta kita itu kayak bunga dandelion ini. kemanapun putik-putiknya terbang terbawa angin dan dimanapun dia akan berlabuh. dia akan tetap tumbuh berbunga lagi di tempat ia berlabuh”